Romano Artioli jajal Chiron saat kunjungi pabrik Bugatti

Jakarta (ANTARA News) – Produsen mobil sport asal Perancis, Bugatti, menerima tamu istimewa pekan ini.

Romano Artioli, pengusaha otomotif terkenal yang belum kehilangan minatnya untuk mobil hyper-sport, datang ke Molsheim pertama kalinya guna menyaksikan kekuatan merek yang pernah dihidupkannya kembali pada akhir 1980-an. 

Menginjak usia 86 dengan antusiasme layaknya seorang bocah lelaki, Artioli menganalisis perkembangan dunia otomotif saat ini secara umum, dalam pembicaraan dengan presiden Bugatti Stephan Winkelmann.

“Romano Artioli adalah sejarah hidup Bugatti. Berkat usahanya yang gigih dan di tangannya juga, merek kami dihidupkan kembali di era modern, sungguh suatu kehormatan untuk menerimanya di Molsheim,” jelas Stephan Winkelmann, dikutip dalam laman resmi Bugati, Minggu.

“Sungguh menginspirasi melihat energi dan antusiasme Romano, dan hasratnya yang tak terelakkan untuk Bugatti,” tambahnya.

Setelah sambutan hangat oleh Dewan Manajemen Bugatti, Romano Artioli melakukan tur ke seluruh fasilitas Bugatti termasuk Château Saint Jean dan Atelier. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menguji Bugatti Chiron. 
  Bugatti Chiron (Bugatti.com)

Baca juga: Lima hal yang perlu kamu tahu soal Bugatti Divo

“Molsheim adalah tempat ajaib di mana mimpi menjadi kenyataan. Saya tersentuh dan sangat senang telah diterima di sini dengan cara yang ramah. Saya merasa bangga dengan pengakuan peran saya dalam sejarah perusahaan, karena telah berkontribusi pada merek yang luar biasa dan legendaris seperti Bugatti,” ujar Romano.

Pada 1980, Romano Artioli adalah importir dan dealer mobil yang sangat sukses di Italia Utara, terutama untuk Ferrari dan beberapa merek Jepang.

Namun, koleksi mobilnya menunjukkan kecenderungan besar pada Bugatti, sebagai model bersejarah yang banyak terpajang di garasinya. 

Artioli membeli merek dagang Bugatti pada tahun 1987 dan menjadi ketua Bugatti Automobili S.p.A. Dia membangun tempat produksi yang luar biasa di Campogalliano di mana dia memproduksi Bugatti EB110 antara tahun 1991 dan 1995, sebelum harus menutup pintu pabriknya.

Hari ini, semuanya kembali ke awal. Bugatti pulang ke Molsheim pada tahun 1998 di mana ia sejak itu bekerja pada pembuatan mobil sport hiper paling menonjol di dunia. 

“Dunia otomotif terlalu menarik. Ketika Anda datang ke tempat yang unik seperti Molsheim dan menghirup semangat perintis melalui di udara di sini, bagaimana saya bisa pensiun dan melewatkan semua perkembangan revolusioner yang menarik yang akan datang?,” tutup Romano Artioli.

Baca juga: Penjualan Hyundai-Kia meningkat di AS
Baca juga: GM akan berinvestasi di Brasil hingga 2024
Baca juga: Lego bangun replika Bugatti Chiron yang bisa dikendarai

Penerjemah: Chairul Rohman
Copyright © ANTARA 2019